Selasa, 13 Juni 2017

Melejitkan Kecerdasan Yang Berimbang



Melejitkan Kecerdasan Yang Berimbang

            Lebih dari sepuluh tahun lalu, sekitar tahun 2000-an, dunia pendidikan kita mengenal istilah quantum quotient atau kecerdasan quantum. Maka saya juga sempat menemukan literatur yang relevan. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002) menjelaskan tentang quantum learning, yaitu bagaimana membiasakan belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Dimakah sekolah yang menyenangkan dalam hidup ini bisa kita jumpai ?
            Bagi saya pribadi, sekolah utama yang menyenangkan ada di Taman Kanak-kanak. Karena taman kanak-kanak adalah sebuah taman pendidikan yang indah. Kemudian di tempat bimbel yang dikondisikan. Selanjutnya bahwa sekolah yang menyenangkan tersebut pada beberapa sekolah dasar, SLTP dan SLTA.
            Fokus belajar pada taman kanak-kanak juga meliputi tiga ranah, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Tujuan pembelajarannya adalah agar anak menguasai gerak kasar dan gerak halus dan juga dasar-dasar keterampilan sosial. Adapun metodepembelajaran di taman kanak-kanak adalah dalam bentuk learning by doing, learning by playing, learning by imitating and learning by exploring. Karena merasa nyaman dan begitu menyenangkan belajar di taman kanak-kanak, maka cukup umum anak-anak TK yang sangat mengidolakan guru mereka dan lebih mendengar apa yang diucapkan dan dikomentari oleh guru-guru mereka.
            Juga banyak siswa yang merasa nyaman dan senang belajar pada beberapa SD, SLTP dan SLTA. Juga ada rasa nyaman dalam belajar terjadi pada beberapa bimbingan belajar. Mengapa ini terjadi ?
            Yang diperlukan oleh anak-anak untuk belajar adalah memang lingkungan yang menyenangkan, kemampuan berkomunikasi, keterampilan belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri. Dorothy Law Nolte menulis puisi edukasi yang berjudul “children learn what they live- anak anak belajar dari lingkungan”, sebagaimana saya baca pada buku SEFT- Spiritual Emotional Freedom Technique (Ahmad Faiz Zainuddin, 2009). Beberapa cuplikan puisinya mengenai suasana pendidikan dengan lingkungan positif, yaitu sebagai berikut:
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang penuh toleransi, ia belajar untuk bersabar.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberi pujian, ia belajar untuk menghargai.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menerimanya apa adanya, ia belajar untuk
               mencintai.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberikan dukungan, ia belajar untuk
               menyenangi dirinya.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberikan penghargaan, ia belajar untuk
               memiliki tujuan dan cita-cita.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang suka berbagi, ia belajar untuk bermurah hati
               dan suka memberi.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi kejujuran, ia belajar untuk
               mencintai kebenaran.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menghargai keadilan, ia belajar untuk
               bersikap adil.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang baik hati dan penuh tenggang rasa, ia belajar
               untuk menghormati.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang penuh rasa aman, ia belajar untuk memiliki
               keyakinan dan berbaik sangka.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang bersahabat, ia belajar untuk merasa bahwa
              dunia ini indah dan hidup ini begitu berharga.
            Nah bagaimana dengan anak-anak di lingkungan kita ? Mengapa di sekolah-sekolah dan kelas-kelas tersebut aktivitas terasa nyaman dan menyenangkan ? Suasana ini terjadi karena adanya lingkungan yang memberi semangat dan dukungan, lingkungan yang memberi pujian dan juga menerimanya, lingkungan yang memberi penghargaan dan rasa aman, serta lingkungan yang penuh bersahabat dengan anak didik.
            Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menambahkan bahwa setiap hari anak akan memperoleh dua macam komentar dari  teman, orangtua, guru dan lingkungan mereka, yaitu komentar positif dan komentar negatif. Adalah berbahaya bila anak banyak memperoleh komentar negatif, sebab semangat belajar mereka bisa melorot.
            Jika anak sering kena ancam atau tidak memperoleh modeling  dalam hidup, maka kecerdasannya pada akhirnya akan mandek. Lingkungan yang kaya akan rangsangan, menghasilkan siswa yang sukses. Sementara lingkungan yang miskin dengan rangsangan akan menghasilkan siswa yang lambat cara belajarnya.   
            Saya menjumpai sebuah lingkungan rumah yang memungkinkan seorang anak bisa belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Memang orangtua harus menyediakan ruang belajar dan merancangnya seapik mungkin. Rumah tersebut adalah rumah seorang mahasiswa Asia yang memperoleh beasiswa di Universitas Melbourne. Umumnya orang di Australia hidup mandiri, dan tidak terbiasa punya pembantu. Punya pembantu melambangkan ketidak berdayaan dan juga tidak mandiri dalam hidup.
            Mahasiswa doktoral ini membawa anaknya dan merancang ruang belajar dan ruang eksplorasi buat anak. Ada sarana bermain edukatif, ada bacaan, ada aturan kehidupan, ada interaksi. Lingkungan memberikan rasa aman bagi anak, ada pujian dan penerimaan. Orangtua mua ini menyediakan pengalaman yang banyak dan beragam buat anaknya. Sang anak punya pengalaman mencoba, bergaul dan pengalaman perjalanan. Sebab anak atau seseorang yang punya koleksi pengalaman pribadi yang banyak akan lebih kreatif dari orang yang kurang pengalaman.
            Orangtua dan guru juga tidak perlu terlalu mencampuri dan terlalu mendikte mengapa dan bagaimana seorang anak alam belajar. Bahwa orang belajar tergantung pada faktor fisik, faktor emosional dan faktor sosiologi. Ada anak yang senang belajar dengan cahaya terang dan juga ada yang suka cahaya agak redup. Ada yang suka belajar dengan berkelompok dan ada yang suka sendiri. Kemudian ada yang suka belajar pakai musik dan ada yang suka suasana sepi, dan juga ada yang suka belajar dengan kondisi rapi dan ada yang suka suasana berantakan.
            Sekarang ini banyak orang beranggapan bahwa belajar yang nyaman dan menyenangkan hanya terjadi di sekolah-sekolah unggul, karena sekolah tersebut sengaja dirancang dan para siswanya menjadi cerdas karena diprogramkan. Namun jauh di sana, pada sebuah sekolah biasa-biasa saja di kita Ambon telah muncul seorang siswa polyglot- menguasai lebih dari 10 bahasa-bahasa dunia, sementara itu orangtuanya hanya seorang buruh kecil, namun dia (namanya Gayatri) menemukan quantum learning sendiri dalam menguasai banyak bahasa, sehingga mengantarkan dia menjadi duta bangsa ke PBB di New York.
            Latif Pramudiana, seorang teman asal Tangerang, yang mengabdi sebagai guru di Lintau, sebuah kota kecil, tidak berhenti belajar dalam hidupnya. Laki-laki ini terbiasa untuk selalu belajar dalam hidupnya. Saya menemukan alat musik dan juga tumpukan buku-buku di kontrakannya. Dia terbiasa kalau belajar senang melihat buku-buku bertebaran di sekitarnya, lain waktu ia bermain gitar atau membaca buku yang ditemani lantunan instrumen lembut.
            Baginya memegang buku itu sebuah kenikmatan. Ia melahap buku dengan sepenuh hati. Ia menggunakan sebuah pensil untuk mencoret-coret, menggaris bawahi dan menghubungkan ide-ide dalam buku tersebut. Bila bisa menamatkan satu buku, ia merasakan bahwa ia berhasil menaklukan sebuah peradaban dan ia pun merayakan. Banyak membaca bukan berarti membuat ia menjadi kurang pergaulan. Ia juga meluangkan waktu untuk saling bertukar pikiran dengan sesama dan juga melakukan banyak perjalanan untuk menemui orang baru dan pengalaman baru.
            Secara tidak sengaja dahulu saya sering berkunjung ke sebuah rumah di Lintau,  yang di dalamnya terdapat beberapa lemari yang penuh dengan berbagai macam buku. Orang yang memiliki buku-buku tersebut dan telah membaca/ menamatkan dan mentelaah semua isi buku tersebut bernama Fasli Jalal. Yang kemudian pernah menjadi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
            Quantum learning- kebiasaan belajar nyaman dan menyenangkan- telah mengantarkan Fasli Jalal menjadi salah seorang tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia. Itu diawali dengan keputusannya saat muda untuk memilih sekolah berkualitas Di Kota Solok  jauh dari kampungnya di Lintau. Di sana dia hidup mandiri dan terbiasa dengan active learning dan peduli denga literasi membaca yang banyak dan berkualitas. Semangat suka berkompetisi memberinya motivasi yang tinggi untuk mencapai visinya melalui strategi hidupnya yang terencana hingga ia memperoleh puncak karirnya.
            Untuk zaman sekarang, bahwa seseorang yang hebat bukan hanya harus memiliki IQ (inteligent quotient) yang bagus, namun juga harus juga peduli dengan eksistensi EQ (emotional quotient)dan SQ (spiritual quotient). Dia harus memiliki komponen kecerdasan yang berimbang. IQ yang bagus menjadi syarat mutlak untuk berkompetisi. EQ yang bagus menjadi syarat untuk mencapai prestasi puncak dan SQ menjadi syarat untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat. Ksuksesan kita ditentukan oleh IQ, dan kebahagiaan kita ditentukan oleh IQ dan SQ. Maka inilah hakekat untuk melejitkan kecerdasan yang berimbang.
            Agus Nggermanto (2003) menjelaskan tentang bagaimana cara melejitkan IQ, EQ dan SQ secara harmonis.salah satunya adalah melalui accelerated learning atau percepatan belajar. Percepatan belajar bagi siswa dengan IQ yang mantap bisa dilakukan melalui membaca cepat, membaca yang cepat, dan berpikir kreatif.
            Rata-rata kita memiliki Iq yang standard dan kita perlu mengasah iq kita. kebiasan yang bisa kita lakukan untuk mengasah iq adalah melalui membaca cepat, menghafal yang cepat, berpikir kreatif, berhitung cepat dan, mencatat yang cepat- misal melalui mind mapping.   
            Menghafal yang cepat dapat kita lakukan dengan menggunakan semua indera yang berhubungan penyerapan informasi seperti audio (pendengaran), visul (penglihatan) dan kinestetik atak praktek. Intensitas dan pengulangan pokok pikiran dengan cara membaca bersuara atau melalui peta pikiran juga menentukan kualitas hafalan. Menggunakan unsur emosional, seperti bernyanyi/ pakai musik dan melakukan gerakan juga menentukan kualitas hafalan. Bergerak dapat membangkitkan semangat. 
            Membaca cepat adalah kebutuhan dasar manusia. Membaca telah dianjurkan oleh Allah seperti yang dapat kita baca dalam alquran. Membaca merupakan kunci untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk mengatasi masalah membaca adalah dengan mempercepat kemampuan membaca, kita harus membiasakan banyak membaca.
            Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002: 178) menjelaskan tentang menulis dan mencatat, kita semua adalah penulis. Dorongan untuk menulis itu sama besar dengan dorongan untuk berbicara, yaitu untuk mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita. tentang mencatat, bahwa mencatat berguna unuk meningkatkan daya pikir kita. Ada 2 cara mencatat yang dapat kita terapkan yaitu dengan cara membuat peta pikiran atau mind mapping dan yang lain dengan bentuk catat tulis susun. Kiat-kiat tambahan dalam mecatat adalah untuk membuat kita bisa mendengar secar aktif.
Seseorang kalau mendengar ceramah, pidato dan seminar, kalau hanya sekedar mendengar maka daya tahan atau fokusnya tidak begitu lama, setelah itu dia akan merasa bosan dan mengantuk. Maka mendengar aktif perlu dilaksanakan, yaitu mendengar dan mencatat ide-ide penting. Maka saat mendengar ceramah, pidato dan seminar, duduklah dibagian depan dan mendengar sambil menctat poin-poin penting.
Tentang korelasi multi-intelegensi (kecerdasan berganda) dengan IQ, SQ dan EQ. Yang termasuk kecerdasan intelektua (IQ) meliputi kecerdasan logis dan linguistik atau numerikal dan verbal. Kecerdasan emosional (EQ) meliputi kecerdasan intrapersonal (memahami dan menguasai diri) dan interpersonal (bergaul dan beradaptasi  dengan orang lain), kemudian kecerdasan spiritual (SQ) meliputi kecerdasan substantial (zat) dan kecerdasan ekistensial (memahami keberadaan hidup dan penciptaan kehidupan). Bentuk kecerdasan yang lain (quotient lain) adalah kecerdasan kinestetik (psikomotorik atau kecerdasan tubuh)  dan kecerdasan musik.
Melejitkan kecerdasan yang berimbang, yaitu antara kecerdasan IQ, EQ dan SQ perlu diusahakan. Kalau kita hanya sekedar ceras dengan IQ, kita memang mampu bersaing dalam hidup, namun kita akan susah untuk mencapai karir puncak karena karir puncak dilalui lewat tangga sosial atau kecerdasan emosional (EQ). Kemudian hidup juga terasa kosong dan miskin dari nilai-nilai kehidupan, karena kita lemah dalam kecerdasan spiritual (SQ). Sebelumnya kita sudah memaparkan cara meningkatkan potensi IQ, maka berikut adalah cara buat meningkatkan potensi EQ dan SQ. Emotional quotient kita bisa berkembang melalui:
- Bergaul dengan banyak orang, dengan cara demikian kita akan memiliki
   pengalaman yang kaya dengan berbagai jenis emosi orang.
- Sudi untuk mengambil tanggungjawab.
- Mendengar dengan cara berempati, utamanya pada anak dan murid, dan juga pada
   orang yang lebih muda usianya.
- Mengungkapkan suasana hati.
- Membantu untuk menemukan solusi lewat curhat (curah hati atau curah perasaan).
- Dengan cara menjadi modeling atau teladan bagi orang sekitar. Seseorang suka
   melihat atau meniru contoh daripada diceramahi atau digurui.
Tentang spiritual quotient, bahwa banyak orang yang sukses ditinjau dari ukuran dunia, namun mereka merasa kering dan gersang pada rohaninya. Itu terjadi karena mereka kurang memahami substansial zat diri dan penciptanya, dan juga kurang memahami eksistensi atau keberadaanya. Menurut ajaran Islam bahwa setiap manusia harus punya hubungan yang berimbang antara “ hablul minallah wa hablul minannas- berhubungan dengan Allah (Tuhan) dan juga berhubungan dengan manusia”. Untuk meningkatkan kualitas spiritual quotient atau kecerdasan spiritual, maka kita harus punya ilmu pengetahuan tentang agama, kita mampu menerapkan atau mengamalkan ilu tersebut. Kemudian kita harus memiliki komunitas atau jamaah dimana disana kita dapat saling bercermin diri atau melakukan refleksi serta introspeksi diri.      

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture