Selasa, 13 Juni 2017

Membangun Pengalaman Sambil Menuntut Ilmu



Membangun Pengalaman Sambil Menuntut Ilmu

            Mau tahu tentang populasi pelajar di Indonesia ? Fasli Jalal (2010) menjelaskan tentang pelajar Indonesia, untuk SD ada sekitar 26 juta orang, SMP 7,5 juta orang, SMA 5 juta orang dan populasi mahasiswa Perguruan Tinggi sekitar 3 juta orang. Proporsi populasi pelajar tersebut dari SD hingga Perguruan Tinggi menyerupai bangunan piramida. Itu berarti bahwa tidak semua anak SD yang melanjutkan pendidikan ke SMP, tidak semua anak SMP yang melanjutkan pendidikan ke SMA dan tidak semua anak SMA yang kuliah ke Perguruan Tinggi, juga tidak semua lulusan Perguruan Tinggi yang memperoleh pekerjaan.
            Luas wilayah Indonesia bisa menutupi geografi Eropa, juga georafi wilayah Amerika Serikat dan wilayah benua Australia. Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa ada 26 juta orang pelajar SD dan berarti ada 4,3 juta siswa pertingkat. Namun hanya 2,6 juta orang yang melanjutkan ke SMP dan 1,7 juta pada pergi kemana ? Begitu juga siswa saat di SMP jumlahnya 2,6 juta menciut populasi menjadi 2 juta orang saat berada di SMA. Mengapa ini terjadi dan mengapa angka drop-out termasuk tinggi di negara kita ? Tentu ada banyak penyebabnya, salah satunya karena rendahnya minat dan motivasi belajar siswa. 
            Rendahnya minat dan motivasi belajar ini terjadi karena anak didik cukup lemah dalam penguasaan materi pelajaran. Utamanya dalam kemampuan membaca. M.Nuh (2011) memaparkan tentang Scope PISA (Program For International Assessment) For Reading Literacy tahun 2009. Dikatakan bahwa dimana posisi Indonesia untuk kategori membaca dari 69 negara yang bergabung.
            Ada 60 negara yang skor membaca literasinya lebih baik dari Indonesia dan ada 8 negara yang mutu membaca literasinya dibawah posisi Indonesia. Berarti posisi reading literacy Indonesia berada pada posisi 61 di antara negara anggota PISA. Dengan demikian secara tidak langsung telah menggambarkan bahwa kualitas kemampuan membaca anak-anak Indonesia, terutama untuk tingkat pendidikan dasar (SD) sangat rendah di dunia.
Faktor penyebab adalah lemahnya dalam pemahaman reading literacy mereka hingga mereka tidak merasakan kepuasan dalam menuntut ilmu pengetahuan hingga mereka hengkang setelah tamat SD. Karena tidak merasakan indahnya atau puasnya menuntut ilmu membuat banyak SMP tidak melanjutkan pendidikan ke SMA, begitu pula tidak bayak pula yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Banyak faktor yang membuat anak-anak mengalami putus sekolah. Selain faktor internal- faktor yang berasal dari dalam diri dan juga dari lingkungan mereka yaitu dari rumah mereka. Juga dicetuskan oleh faktor yang ada di sekolah itu sendiri.
Tiga hal yang membuat skor reading Indonesia menurut Scope PISA rendah, pada banyak sekolah di Indonesia terjadi:
- Poor learning condition (kondisi belajar yang rendah kualitasnya)
- Low teacher ability (kemampuan mengajar guru yang rendah)
- Unmotivated environment for learning (lingkungan belajar yang kurang memotivasi
  anak didik).
Seharusnya kita di Indonesia perlu belajar dan meniru pengalaman terbaik (best practice) beberapa negara tetangga dalam praktek pengajaran sehingga score reading literacy mereka sangat baik. Dari negara-negara yang terbaik score membacanya maka 3 negara yaitu Singapura, Australia dan Selandia Baru. Ke tiga negara ini dalah tetangga Indonesia. Pada hal pribahasa internasional mengatakan:
Good neighbour makes good friend- tetangga yang baik menjadi sahabat yag baik”.
Dengan demikian jumlah mahasiswa yang berjumlah 3 juta orang diasumsikan adalah sebagai pembaca yang bagus score reading-nya. Mereka adalah orang yang menyukai membaca hingga mampu menyelesaikan program perkuliahan mereka. Namun setelah mereka diwisuda menjadi seorang sarjana, mereka menjadi pelamar kerja dan pencari kerja. Bagaimana strategi mereka merebut karir- karir yang ada ?
Ada ratusan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang total semua mahasiswanya sekitar 3 juta orang. Mereka diasumsikan adalah sebagai embaca yang baik hingga mampu menyelesaikan program kuliah. Diasumsikan bahwa perguruan tinggi seperti UI, UNJ, ITB, UNPAD, UNDIP, UGM, ITS, UNIBRAW memiliki kualitas sebaik perguruan tinggi yang ada di Australia.
Cukup banyak tamatan universitas dari perguruan tinggi tersebut. Mereka ingin bekerja di sektor pemerintahan atau di sektor pertahanan. Stelah itu juga ada alumni perguruan tinggi yang ingin berkompetisi untuk bisa masuk BUMN – atau perusahaan sangat besar di Australia.
Umumya orang masih meyakini bahwa mereka yang memperoleh nilai atau IPK yang tinggi merupakan kriteria utama untuk bisa memenangkan pekerjaan. Apalagi kalau saat jadi mahasiswa dan mampu memperoleh nilai cum-laude. Dengan demikian mereka yakin bahwa dunia kerja/ perusahaan akan segera menyambutnya. Namun fenomena begini tidak ada lagi. Sejak dari sekarang kita rekomendasi pada siswa dan mahasiswa bahwa dunia kerja/ perusahaan juga punya strategi sendiri untuk menilai- menseleksi para pelamar yang punya kualitas untuk menumbuh-kembangkan perusahaan mereka.
Seorang lulusan universitas degan IPK cum-laude, namun kemampuan sosialnya biasa-biasa saja akan tidak bisa lolos dalam rekruitmen dibandingkan dengan lulusan yang memiliki skor standard namun memiliki nilai sosial (soft skill) yang lebih seperti kemampuan dalam bidang  kepemimpinan, keterampilan dalam berkomunikasi, pemecahan masalah dan mampu dalam pelayanan pelanggan, merupakan lulusan universitas atau pelamar pekerjaan yang lebih diminati oleh dunia perusahaan. Ruth Callaghan (2015) menjelaskan bahwa untuk bisa lolos dalam rekruitmen maka ada 3 hal yang perlu diketahui dan dimiliki oleh para pelamar kerja yaitu: cultural fit, experience dan vocal graduates.
Cultural fit atau kesesuaian dengan budaya perusahaan. Dalam menseleksi para pelamar yang sesuai dengan kultur perusahaan maka para pelamar diseleksi melalui proses yang cukup komplek yang meliputi tahap sebagai berikut:
- Telephone interviewing (wawancara lewat telepon).
-  Video interviewing (wawancara lewat video).
- Aptitude test (test kecakapan)
- Profile personality (wawancara tentang profil pribadi)
- Group discussion (kemampuan diskusi kelompok)
- Presentation (kemampuan presentasi)
            Melalui 6 tahapan seleksi ini akan ditelusuri potensi- potensi yang dimiliki para pelamar atas: kemampuan leadership mereka, karakter mereka untuk mampu bertanggungjawab dan bekerja sama, dan kemudian apakah mereka mampu melaksanakan peran-peran yang diberikan serta mampu memberi kontribusi pada perusahaan. 
            Experience atau pengalaman. Maka disarankan kepada para pelamar yang kelak akan memasuki dunia kerja agar tahu bahwa dunia pekerjaan selalu mencari calon pelamar yang punya pengalaman yang luas. Maka calon pelamar jangan hanya terfokus pada urusan-urusan akademik semata dan kurang peduli dalam pengembangan potensi yang lain.
            Dunia perusahaan juga ingin tahu tentang alasan calon pelamar dan bagaimana bentuk motivasi mereka. Juga apa alasan mereka ingin bergabung dengan perusahaan. Selanjutnya apakah saat menjadi mahasiswa mereka punya pengalaman yang lain seperti:
            - Ekskul dalam bidang olahraga
            - Ekskul dalam bidang musik
            - Kegiatan volunteering dan juga bidang yang lain
            Karena semua catatan pengalaman tentang ekskul juga akan diperhitungkan dalam rekruitmen oleh perusahaan. Perusahaan sangat tetarik dengan pelamar yang berpenampilan happy dan punya pengalaman yang berimbang yaitu:
            - Extracuricular activities (kegiatan ekstrakurikuler)
            - Achievement motivation to join with the firms (motivasi berperstasi untuk bergabung
             dengan firma).
            - Work experiences (pengalaman kerja)
            - Problem solving (kemampuan memecahkan masalah) 
            Tim assessmen perusahan akan mengakses (menilai) poin-poin di atas melalui dokumen otentik dan wawancara dan sekaligus team assessment/ perekrut tenaga kerja juga memperhatikan beberapa hal tentang:
            - Action oriented (berorientasi pada tindakan)
            - Willing to speak (kesediaan untuk berbicara)
            - Willing to brainstorming (kesediaan untuk brainstorming)
            - Willing to have opinion (kesediaan untuk punya opini sendiri).
            Dan tentu para pelamar juga harus mencaritahu tentang apa dan bagaimana profil perusahaan yang juga sedang diincar agar bisa memiliki perasaan yang mantap kelak.
            Vocal graduate maksudnya adalah opini-opini yang berkaitan dengan calon pelamar. Ada beberapa poin/ item yang perlu diperhatikan oleh pelamar untuk menjadi pelamar yang ideal. Hal- hal ini akan terpantau saat melalui wawancara, yaitu: para pelamar opini perlu memiliki opini sendiri, latarbelakang yang harus bervariasi, bagaimana titik pandang yang baru.
            Kemudian juga ada beberapa kompetensi yang tidak bisa ditawar-tawar, yaitu seperti kemampuan mendemonstrasikan kecerdasan dalam bekerja, dan kemampuan dalam berkomunikasi, yang meliputi assessment secara online atas kompetensi numerical, logika dan beralasan secara verbal, juga angket tentang kepribadian dan wawancara tentang kepribadian.
            Jadi perlu direkomendasi kepada para mahasiswa untuk membangun pengalaman sambil menuntut ilmu, membangun pengalaman sambil kuliah, dan juga mereka diharapkan untuk melibatkan diri dalam kegiatan di luar kampus. Mahasiswa yang kelak menjadi calon pelamar pekerjaan, mereka akan memiliki daya tarik untuk memilki pengalaman dalam bidang ekskul yang luas, pernah berpergian ke luar negeri, pernah mengikuti pertukaran pelajar atar negara dan pernah ikut kegiatan volunteering.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture