Selasa, 13 Juni 2017

Mengkonsumsi Junk-Food Dengan Bijak



Mengkonsumsi Junk-Food Dengan Bijak

            Saya sangat terkesan membaca sebuah buku yang berjudul “Hidup Sederhana” yang ditulis oleh Desi Anwar (2015: 85-86). Salah satu sub-judul buku tersebut adalah ”makan dengan bijak”. Dia mengatakan bahwa makan itu bukan sekedar memasukan makanan apapun yang kita suka ke dalam mulut untuk memuaskan rasa lapar. Namun kita perlu makan dengan bijak. Makan dengan bijak adalah mengetahui apa yang sedang kita makan. Kita memahami bagaimana makanan itu diproses dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh.
            Kita telah berada di zaman moderen dan kita sering berbelanja di kedai-kedai moderen yang bernama supermarket, swalayan atau mart. Di sana bertebaranan makanan yang telah dikemas dalam kaleng. Setiap kotak, kaleng, stoples, bungkus, kemasan dan botol yang ditemukan di kedai moderen ini memiliki label. Kita selalu melihat label tersebut, hanya saja kita kurang peduli buat membacanya. Lihatlah pada daftar bahan-bahan pembuatnya. Sungguh menakjubkan namun di sana juga tertera angka dan nama yang sungguh asing bagi kita. Itu semua adalah zat pewarna, zat tambahan, zat pengawet, dan berbagai tambahan zat kimia sehingga makanan tersebut terlihat, terasa seperti adanya dan tahan lama.
            “Makin panjang daftar bahan-bahannya, makin tidak alami makanan yang kita makan itu dan makin sedikit kandungan alaminya. Makan tersebut mungkin terlihat lebih bagus, lebih mengkilap dan lebih manis, tetapi tidak terlalu menyehatkan”.
Makanan ringan yang dijual di warung-warung milik warga sekitar 30 tahun yang lalu masih serba alami. Yang ada kue lopi, nasi ketan, lemper bugis, jagung bakar, goreng ubi, goreng singkong, dan ada lusinan nama jajanan yang lain. Jajanan ringan tersebut cukup sehat dan aman untuk kesehatan. Saya sendiri sering mengkonsumsi jajanan ini (pisang goreng dan nasi ketan) sebagai pengganti sarapan pagi, dan jajanan ini cukup mengenyangkan.
            Tiga puluh tahun lalu jarang saya mendengar orang yang menderita sakit berat  akibat salah konsumsi makanan atau mengkonsumsi makanan/ jajanan yang kurang  sehat. Ukuran rumah sakit tidak sebesar sekarang dan jumlah pasien juga tidak begitu ramai. Di perkotaan juga belum banyak tersedia klinik-klinik kesehatan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit langka dan saat itu jumlah orang yang sakit serius juga tidak sebanyak sekarang.
            Di luar warung juga tidak banyak variasi jajanan yang bisa dibeli. Anak-anak belum kenal dengan buah-buahan import. Mereka sangat doyan dengan buahan tropis yang tumbuh di seputar rumah seperti: jambu, pepaya, manggis, mangga, alpukat, dll. Buah-buahan ini sangat menyehatkan orang-orang yang hidup di daerah tropis.
            Namun di tahun 2000-an ini apa yang terjadi ? Saya susah payah buat menemukan jajanan alami yang biasa saya konsumsi saat saya remaja dulu. Cukup susah menemukan sepiring rujak, lopi dengan kuah gula aren, nasi ketan campur srikaya, dll. Yang lebih mudah adalah buat menjumpai makanan cepat saji, yang kaya dengan  zat pewarna dan zat penambah ras lainnya. Jumlah kuliner memang tumbuh pesat, namun butuh ketelitian dan kejelian kita buat mendapatkan makanan sehat. Saya merasa lapar dan setelah saya menkonsumsi semangkok makanan cepat saji, aneh kerongkonan saya terasa kering. Itu semua adalah efek dari zat-zat kimia yang bertaburan dalam kuiner yang tidak sehat dan setiap detik akan menghancurkan kualitas kesehatan kita.
            Makanan-makanan cepat saji memang sangat indah bentuknya dan sangat sedap rasanya. Setelah saya intip ternyata rasa sedap itu terbentuk dari taburan zat-zat kimia yang bernama “bumbu kimia”. Dalam istilah internasional makanan-makan ini bernama “junk-food” atau makanan rongsokan, dan sungguh minim dengan nilai kesehatan. Saya bukan menteror anda (para pembaca) untuk memboikot makanan ini, namun konsumsilah dengan bijak. Saya pun masih mengkonsumsi junk-food, tetapi bukan sebagai makanan utama dan juga bukan sebagai buat gaya hidup. Saya hanya mengkosumsi junk food sekali-sekali dan setelah itu saya lebih rajin mengkosumsi sayur dan buahan segar, agar efek zat kimia yang jahat kembali netral dalam lambung saya.
Setiap kali saya ikut makan bersama teman atau saya lagi berada di sebuah restoran dengan sajian aneka bentuk kuliner, mata saya sering tertuju pada piring- piring dan memperhatikan tentang kualitas menu yang disantap oleh pengunjung restoran. Entahlah kenapa kebiasaan saya ini bisa terbentuk dan saya sendiri juga bukan orang yang tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga- ayah dan ibu- yang begitu peduli dan mengerti dengan nilai gizi dan gaya makan yang sehat.
            Saya malu mengungkapkan tentang siapa saya, namun tidak mengapa selagi pembaca tulisan ini bisa mengambil manfaat atas pengalaman buruk saya. Bahwa sewaktu kecil saya dan juga saudara- saudara saya tubuh dalam kondisi gizi buruk. Masih terngiang dalam pendengaran saya tentang suara ibu yang mendeskripsikan “saya sebagai anak kecil dengan perut buncit, kulit kering dan bersisik, serta tulang belulang pada tubuh yang menonjol”.
Abang saya baru mau menyantap nasi kalau ada lauk-pauk yang terbuat dari jengkol bakar. Ini adalah menu yang jauh dari standar sehat buat seorang balita. Untunglah beberapa waktu kemudian ayah saya memboyong kami pindah ke Payakumbuh dan karena telah memperoleh pekerjaan dengan gaji yang lebih bagus , sehingga mampu membeli lauk- pauk yang lebih bergizi yang sangat baik bagi pola nutrisi kami. Untuk tumbuh sehat sangat diperlukan ilmu pegetahuan (dan kecerdasan lain).
“Ya kita harus bisa mengkonsumsi makanan dengan cerdas dan bijak”.
Namun saya merasa aneh, dan bertanya-tanya dalam hati, setiap kali makan bareng dengan teman-teman yang walaupun lulusan perguruan tinggi namun mereka “ada yang tidak terbiasa menjamah sayuran untuk menu makan siangnya”. Sepertinya mereka tidak mengenal bagaimana “makan dengan bijak”, yaitu mengkonsumsi pola makanan yang sehat. Piringnya hanya penuh dengan taburan bumbu-bumbu pedas dan lauk pauk yang kaya dengan lemak yang berkolestrol tinggi. Sekali lagi bahwa mereka tidak pernah tertarik untuk menjamah sayur-mayur dan mengkonsumsi buah untuk sekedar cuci mulut.
“Padahal sepotong pepaya, salak, pisang, jeruk atau buah tropis yang kaya vitamin lainnya sebelum atau setelah selesai makan, sungguh sangat menyehatkan tubuh”.
            “Mengapa anda makannya tidak pake sayur ?”, Tiba-tiba saya menyapa seorang teman untuk mencari tahu.
            “Yeah....karena dari kecil saya memang sudah nggak suka sayur,.....saya tidak terbiasa makan sayu dan juga kurang suka dengan sayur”. Jawabnya.
Jawaban yang sama juga sudah saya peroleh dari banyak orang setiap kali saya mengajukan pertanyaan yang sama. Saya bisa membuat generalisasi bahwa begitu banyak orang-orang yang hidup di sekitar kita- sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang terdidik- namun kurang tertarik buat mengkonsumsi sayuran dan juga amat jarang makan buah-buahan yang kaya dengan vitamin dan berguna sebagai pelindung tubuh mereka. Apa penyebabnya ?
Salah satu penyebabnya adalah kualitas parenting (pengetahuan untuk menjadi orangtua) di negara kita yang masih rendah. Parenting di negara maju, seperti di Australia, Singapura, Jepang, Amerika, dll sudah sangat bagus sehingga mampu mengatarkan warga negara mereka menjadi warga negara yang berkualitas tinggi. Namun, sekali lagi, bahwa  parenting di Indonesia masih mengalami banyak kekurangan. Banyak orangtua yang kurang memahami pola makanan sehat buat keluarga dan juga balita mereka.
Sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional yang bernama “Humanium” yang berdiri di Jenewa, dengan visi “Together For Children’s Right- bersama memperjuangkan hak azazi anak-anak” megatakan bahwa Indonesia kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah dan terbentang luas pada lebih dari 13.000 pulau, Indonesia saat ini sedang giat-giatnya dalam periode pembangunan secara besar-besaran. Sayangnya, keunggulan ekonomi negara belum bermanfaat bagi banyak penduduknya. Karena banyak anak-anak yang masih  hidup dalam kondisi tubuh yang kurang  sehat, sehingga mereka tidak bisa menikmati hak-hak hidup untuk bisa tumbuh menjadi anak-anak yang lebih sehat.
            Ditambahkan pula bahwa  Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Misalnya, data untuk tingkat kematian anak-anak yang merupakan sebuah bencana mencapai angka sekitar 40% dari anak-anak Indonesia, yang meninggal sebelum usia 5 tahun. Bayi yang baru lahir sering menjadi korban akibat beberapa penyakit seperti berat pertumbuhan berat badan yang rendah atau mengalami gejala kurang gizi.
            Saat jalan-jalan melalui komplek perumahan penduduk, saya sering menjumpai banyak orangtua yang tidak begitu peduli “tentang makna hidup sehat bagi dirinya dan bagi keluarganya”. Mengapa demikian ? Mereka dengan entengnya memberi jajanan yang tidak sehat (miskin gizi), karena kaya dengan zat-zat kimia buat anak mereka yang masih berusia “balita”. Bila anak-anak yang masih balita menjadi rewel maka mereka membawa balitanya ke kedai sekitar dan membiarkan balita mereka untuk memilih-milih dan  menjangkau jajanan murahan yang bergelantungan di etalase kedai
“Bagi mereka yang penting bagi mereka  asal balita mereka tidak rewel lagi, dan asal perut balita juga bisa kenyang”.
Seorang anak yang punya daya tahan tubuh lemah, tentu saja karena dia telah terbiasa mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, jarang memperoleh sayur, buahan dan suplemen lainnya. Maka penyebab awalnya adalah akibat dari jeleknya kualitas parenting dari orangtuanya. Karena orangtua tidak mengenal dengan pola hidup sehat dan berimbang yang tecermin melalui pola makan. Kemudian menjadi lebih parah lagi dengan kehadiran sebahagian pedagang kaki lima yang menjual jajanan yang juga kurang sehat.
Para pedagang kaki lima (pedagang keliling) kualitas jajan yang mereka jual harus disikapi dengan bijak: apakah sehat atau kurang sehat bagi anak ?. Karena sebagian ada yang meracik jajanan yang berharga murah-meriah, namun bernilai gizi rendah yang berjejer di sekeliling pagar sekolah. Bila dikonsumsi apakah siswa hanya asal kenyang saja dan apa efek kesehatanya sudah diperhitungkan ?
            Bila kita berkunjung ke bangsal anak-anak di berbagai rumah sakit maka akan kita jumpai arus masuk pasien berusia masih anak-anak karena jatuh sakit. Sebagian penyebabnya  adalah gara-gara mereka salah mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Orangtua mereka ternyata juga rajin menyediakan makanan cepat saji (junk food) buat mereka, seperti: mie instan, dan aneka makanan yang bertabur bumbu-bumbu penyedap rasa. Dibalik itu cukup banyak orangtua yang juga malas menghidangkan sayuran dan buahan. Sebuah artikel dalam portal tempo online menulis sebuah artikel dengan judul:
Serious Risks When Parents Don`t Cut Small Fruits for Children” – adalah cukup beresiko buat kesehatan anak-anak, bila orang orangtua malas menghidangkan potongan-potongan kecil buah-buahan buat anak mereka. Judul ini perlu segera direspon oleh semua orangtua dan terutama bagi orangtua yang mendambakan kesehatan bagi anak mereka.
            Cukup fenomena bahwa masyarakat kita lebih peduli dengan citarasa makanan ketimbang nilai gizinya. Pergilah ke pasar dan mampirlah ke warung kuliner. Maka kita akan menyaksikan tumpukan orang-orang yang tengah menikmati aneka makanan yang belum tentu menyehatkan. Ada yang lagi menikmati makanan yang serba dibakar, dengan warna coklat hingga kehitaman. Warna hitam terjadi oleh tumpukan belerang pada makanan. Mengkonsumsi makanan yang serba dibakar dan banyak arangnya, juga pegolahan yang serba digoreng (mengandung kolesterol tinggi), telah membuat meningkatnya populasi pasien penderita kanker.
Bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki usia rata- rata lebih panjang di dunia. Itu semua berasal dari kualitas dan pola makan mereka yang sehat. Memang diakui bahwa cita rasa santapan orang Jepang kalah lezat dibandingkan dengan cita rasa kuliner orang kita. Itu karena mereka telah membudayakan menghindari pengolahan kuliner yang banyak mengandung minyak, gula dan zat-zat kimia sebagai penyedap. Kuliner dan santapan orang Jepang lebih banyak yang bercorak serba “direbus” dan dan mereka suka banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Maka inilah pola makanan yang lebih sehat itu.
            Apakah kita sebagai orang Indonesia kurang mengenal gaya dan pola makanan sehat ? Ternyata ketika masih kecil- duduk di bangku sekolah dasar, kita telah tahu bahwa pola makanan sehat bangsa Indonesia adalah “Empat Sehat- Lima Sempurna”. Namun pola hidup sehat ini hanya sebatas hafalan buat diujikan saat ujian bagi anak-anak SD. Seharusnya pola makan “Empat Sehat-Lima Sempurna” lebih dipahami, diketahu dan diamalkan oleh orangtua mereka di rumah. 
            Saat masih di SD, saya dan hampir semua murid (teman-teman saya) sangat memahami komposisi pola makan “empat sehat lima sempurna” yaitu musti ada “karbohidrat, protein, sayuran, vitamin atau buah-buahan. Dan itupun baru dikatakan dengan sebutan “empat sehat”, kemudian ditambah dengan meminum “satu gelas susu” agar bisa menjadi “lima sempurna”.
“Namun dalam kebijakan tentang makan yang sehat sekarang, bahwa kita harus mengkonsumsi gizi makanan yang berimbang”. Namun pola makan yang sehat jarang hadir di meja kita.
            Melihat foto-foto kami saat masih kecil, wow sungguh  tidak begitu membahagiakan. Terlihat fisik kami tidak terawat, model pakaian yang terkesan ketinggalan zaman, kulit kami kering dan bersisik dan juga berat badan yang kurang dari ukuran standar. Itu semua sebagai pertanda bahwa kami memang mengalami kekurangan gizi di saat kami membutuhkan gizi buat pertumbuhan.
            Pola makan yang kurang sehat dan kondisi orangtua yang juga miskin dengan ilmu parenting bukan hanya terjadi pada keluarga saya. Hampir merata pada banyak teman-teman saya, mereka juga berasal dari keluarga yang buta dengan nilai gizi makanan dan kondisi orangtua mereka juga minus ilmu pengetahuan tentang parenting.
Sekali lagi bahwa kita kurag peduli dan malah tidak peduli dengan bagaimana mengkonsumsi makanan yang bijak. Saat menulis artikel ini saya sedang bersimpati dengan seorang anak kecil, yang saya bezuk di rumah sakit. Dia sedang menderita bentuk penyakit yang tidak jelas namanya. Namun dari gejala yang terpantau sebelum sakitnya datang adalah pengalaman pola makannya yang juga kurang sehat: sejak bayi mengkonsumsi junk food, juga tidak mengenal konsumsi sayuran dalam pola makannya. Dia juga tidak terbiasa memperoleh potongan buahan segar yang kaya vitamin untuk melindungi tubuhnya.
Yang banyak saya lihat adalah dia sering mengkonsumsi jajanan yang kaya zat kimia yang bergelantungan di kedai- kedai- dimana jajanan tersebut tidak layak dikonsumsi oleh balita, apalagi oleh seorang bayi. Tumpukan residu bahan kimia yang dikonsumsinya selama berbulan-bulan dari rentang usia kehidupannya telah mengotori (merancuni) organ percernaakannya, dari mulut hingga usus, juga ginjal dan empedunya. Moga- moga banyak orang yang membaca artikel ini dan kemudian menjadi peduli dengan mengkonsumsi makanan yang sehat. Kalau mau juga mengkonsumsi junk food, maka makanlah dengan bijak.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture