Selasa, 13 Juni 2017

Pengalaman Yang Bervariasi (Soft-Skill) Memudahkan Masa Depan



Pengalaman Yang Bervariasi (Soft-Skill) Memudahkan Masa Depan

            Buat apa orang harus bersekolah dari kecil hingga dewasa dan selamanya? Pada umumnya masyarakat telah tahu bahwa sekolah berguna untuk mengubah nasib. Masyarakat  di lapisan yakin bahwa sekolah untuk menjadi cerdas, bisa jadi pegawai atau bekerja di perusahaan sehingga mudah mendapatkan duit.. Jadinya mereka semua memotivasi anak-anak untuk bersekolah. Belajar dengan sungguh- sungguh dalam menuntut lmu, agar kelak mereka bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah. Apalagi bila bekerja di tempat yang basah maka hidup akan berubah- menjadi sejahtera. Sebagai konsekuensi maka sekolah yang berkualitas telah diserbu dan diidolakan, karena diyakini akan mampu mengubah nasib para siswa. Dan mereka yang sedang menuntut ilmu di sekolah- di bangku SMA- sangat yakin bahwa sekolah bermutu akan membantu untuk bisa jebol ke perguruan tinggi yang favorit:
  “Kuliah di jurusan favorit dan perguruan tinggi favorit akan bisa membuat kita menjadi orang yang hebat. Lulusan dari perguruan tinggi favorit akan gampang untuk mendapatkan pekerjaan, punya kedudukan dan punya uang yang banyak”. Itulah mimpi-mimpi positif yang memotivasi mereka buat belajar serius. Mimpi ini dipegang teguh oleh  banyak siswa dan juga oleh orangtua mereka.
            Untuk merespon mimpi-mimpi positif tersebut, sejak tahap awal pendidikan, banyak orangtua telah merancang konsep-konsep buat menyukseskan pendidikan anak-anak mereka. Kebijakan orangtua yang begini tidak salah karena mereka bisa dikategorikan sebagai orangtua yang punya tanggungjawab terhadap pendidikan anak. Dengan demikian mereka telah punya visi dan misi buat masa depan anak-anak mereka.    Jadinya sejak anak-anak kecil orangtua telah rajin merangsang kognitif anak.
Mereka mengantarkan anak ke pendidikan pra-sekolah. Selama belajar di PAUD dan TK, mereka memberi pujian- tepuk tangan- bila anak- anak mereka bisa mengucapkan doa-doa, mengucapkan angka satu hingga sepuluh, dan melafalkan beberapa patah kata dalam bahasa Inggris. Dan pujian juga akan ditumpahkan bila anak-anak mereka bisa menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris.
Ketika memasuki pendidikan SD, maka orangtua juga akan mensetting waktu buat anak-anak agar mereka bisa mengikuti serangkaian kursus, seperti “caslistung (membaca-menulis dan berhitung), kursus bahasa Inggris, hingga kursus sukses UN (ujian nasional).  Pokoknya sejak kelas 1 hingga kelas 6, waktu anak juga habis di ruangan les privat.
Terus begitu anak-anak masuk ke pendidikan di tingkat SMP dan SMA, maka terasa beban materi pelajaran lebih berat, lebih sulit bagi anak. Orangtua yang lebih mengerti tentang penjurusan mencaritahu tentang penjurusan, misal bagaimana penjurusan di tingkat SMA. Kenyataanya orangtua akan berpendapat bahwa jurusan sains lebih favorite karena akan memberi peluang yang luas bagi anak-anak bila kuliah kelak. Maka lagi-lagi para orangtua akan menggiring anak-anak mereka untuk bisa belajar tambahan. Mengiri anak ke rumah guru, mendatangkan guru-guru privat atau mendaftarkan anak mereka pada lembaga bimbel (bimbingan belajar).
            Begitulah anak-anak sekarang dibisikan dan dimotivasi buat persiapan ke masa depan mereka. Kadangkala didesak buat belajar tambahan bukan berdasarkan bakat dan potensi, namun karena memperturutkan ambisi orangtua. Dalam sebuah artikel  pendidikan saya pernah membaca bahwa banyak anak-anak sekarang yang disetting menjadi manusia karbitan, yaitu menjadi pintar yang dipaksakan. Anak yang cerdasnya karbitan akan memiliki karakter yang “instant”, maksudnya karakter yang ingin serba cepat sukses.
Adalah fenomena sosial, bahwa dewasa ini juga banyak tawaran belajar  dengan paket program instant- “cepat pintar”. Paket ini dirancang oleh pebisnis pendidikan. Membaca tawaran ini membuat banyak orangtua yang tergiur. Mereka menyerbu tawaran tersebut. Mereka mungkin memilih paket cepat pintar berbahasa Inggris buat anak, agar anak bisa “cas-cis-cus” segera. Pada hal menurut paedagogi bahwa semua pelajaran butuh waktu agar terjadi proses pembelajaran yang lebih benar. Kualitas-kualitas berlabel instant, hanya akan memberikan hasil yang abal-abal.
Lain generasi dulu dan lain pula generasi sekarang. Generasi dulu lebih terkenal dengan kemandiriannya. Mereka cari keterampilan sendiri, cari ilmu sendiri, dan juga mencari pekerjaan sendiri. Mereka menjadi smart karena usaha sendiri- usaha secara mandiri. Kontra dengan generasi sekarang, yang banyak menjadi “generasi anak mami”. Mereka dibanjiri dengan berbagai pelayanan atau servis, hingga mereka juga dijuluki sebagai “generasi servis”.
Generasi servis maksudnya bahwa mereka bisa menjadi cerdas dengan prestasi akademik yang tinggi bukan semata-mata murni oleh kemandiriannya. Kehidupan mereka banyak diprogram dan banyak diberi servis sejak usia dini.
Saat masih berusia balita orangtua mereka mendatangkan babby-sitter buat mengurus kebutuhan mereka. Kemudian saat sudah lebih besar- bersekolah di SD, dan agar tidak bermasalah dengan mata pelajaran maka orang tua menyewa (membayar) guru privat untuk datang ke rumah guna bisa menemani mereka dalam mengerjakan PR, serta menghadapi ujian-uijian lainnya di sekolah. Itu semua bertujuan agar mereka bisa menjadi bintang pelajar di sekolah.
            Generasi sekarang banyak yang telah menjadi “generasi anak mami”. Generasi yang begini maksudnya bahwa “mami atau ibu mereka”, atas nama kasih sayang dan demi keberhasilan sekolah mereka, maka para mami membebaskan mereka dari tuntutan ikut membantu tugas-tugas di rumah. Mereka tidak boleh ikut merapikan dan mengurus rumah- tidak boleh menyapu, cuci piring, mensetrika, memasak nasi. Itu semua biar mami yang mengerjakan, dan kalau mami punya uang lebih maka mami akan menyewa asisten rumah tangga untuk membereskan semua pekerjaan tersebut.
            Pergilah ke rumah-rumah para siswa yang orangtua mereka sangat ambisius agar anak-anak bisa menjadi hebat di sekolah. Disana anak-anak dipaksa dan dikondisikan buat belajar dan belajar sepanjang waktu. Selama berjam-jam anak-anak terbelenggu- duduk mengerjakan setumpuk PR dari sekolah dan juga PR dari guru bimbel. Terlihat bahwa mereka hanya terbelenggu oleh urusan akademik semata. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri- seperti makan, pakaian dan pernak pernik kecil lainnya, mereka juga serba dilayani. Kerja mereka hanya bagaimana bisa mencapai target jadi orang pinter. Jadinya kegiatan mereka hanya belajar dan belajar, makan, nonton, dan kemudian kalau sudah bosan baru main game- online.
Akibatnya anak-anak sekarang jadi tidak punya soft-skill atau kecakapan hidup. Mereka hanya jadi manusia yang suka bergantung pada orangtua, kurang mandiri, kurang terbiasa mengurus diri dengan benar. Maka jadilah mereka sebagai anak-anak yang miskin dengan soft skill- miskin dengan pengalaman. Tidak mampu buat mencuci motor, membersihkan sepatu, menyapu lantai rumah, menstrika pakaian, hingga mengurus hal-hal kecil lainnya, karena semua pekerjaan sudah diambil alih oleh mami atau asisten rumah tangga.
            Kalau demikian maka anak-anak sekarang tidak obahnya ibarat “seorang raja kecil di rumah” karena semua kebutuhannya harus dilayani. Mereka juga menjadi manusia instant dan manusia robot, karena telah diprogram agar bisa pintar- ya...pintar yang tidak bisa memberi kebaikannya yang banyak. Al-hasil memang mereka mampu meraih peringkat akademik yang baik- peringkat 1, 2 dan 3 atau termasuk peringkat 5 besar di kelas, namun prestasi akademik tersebut bersifat fatamorgana- hanya sebatas cerdas di atas kertas. Bisa dilihat namun tidak terpakai. Atau lagi-lagi nilai rapornya jadi bagus karena maminya rajin memberi guru cendera mata, hingga sang guru jadi merasa berutang budi atas kebaikan hati mami dan memberikan nilai servis buat anaknya.
            Memang ada para orangtua (ayah dan ibu) yang sukses dalam memprogram pendidikan sang anak untuk mejadi bintang pelajar di sekolah. Hingga nilainya begitu cemerlang dalam rapor dan dalam ijazah. Namun sayangnya banyak orangtua yang belum memahami konsep parenting yang benar. Para orangtua telah mengambil alih “peran guru dari sekolah” untuk urusan pengajaran atau teaching. Peran orangtua sebetulnya lebih fokus untuk urusan educating (seperti soft skill atau pengalaman sosial) dan peran guru fokus buat urusan teaching (kemampuan akademik).
Banyak orangtua yang terlalu mendewa-dewakan kecerdasan otak anak, sayangnya mereka kurang memahami bagaimana seharusnya menumbuhkan anak dengan agar bisa memiliki karakter-karakter positif (dan juga pengalaman sosial/ soft skill), yaitu seperti bagaimana anak-anak bisa “peduli dengan tetangga, bisa beramah tamah, bisa berbagi dengan sesama, bisa bekerja sama dengan orang lain, terampil dalam membantu diri sendiri, tidak berkarakter individu, dll”.
            Walau pada akhirnya putra-putri mereka mampu memasuki perguruan tinggi favorit, karena perguruan tinggi juga lebih banyak merekrut calon mahasiswa berdasar skor  akademik itu sendiri, dan menyingkirkan karakter-karakter positif yang menunjang kehidupan. Proses perkuliahan mahasiswa masa kini juga sangat besar fokusnya untuk mencapai target agademik. Walau banyak mereka yang bisa menjadi cerdas dalam ranah akademik, itu hanya sekedar cerdas dengan kertas. Namun begitu diwisuda dan menjadi seorang sarjana baru, mereka seolah-olah terbangun dari mimpi panjangnya. Sebagian merasakan bahwa pengalaman akademik saja dari kampus belum mencukupi. Jdinya mereka  melangkah menatap kehidupan yang nyata penuh dengan rasa gamang.
            Sebagaimana yang ditulis oleh Ruth Callaghan, dia mengatakan bahwa: “Employers want graduates with more than just good marks, while good grades may be the only goal for many students. Employers are looking for much more from graduates”.
            Sangat benar, bahwa umumnya mahasiswa berlomba buat mencari nilai akademik setinggi mungkin dan berharap bisa memperoleh nilai cumlaude untuk membuat orangtua mereka bisa jadi bangga. Kebiasaan ini tidak salah dan sudah menjadi fenomena di dunia pendidikan. Namun dunia kerja (perusahaan) lebih mencari orang-orang yang tidak sekedar hanya bagus nilai akademiknya, namun juga harus memiliki soft-skill, keterampil dan pengalaman hidup, yang bervariasi.
            Ruth Callaghan  lebih lanjut mengatakan bahwa banyak pimpinan perusahan yang ngetop di Australia telah berbicara dengan banyak mahasiswa di universitas-universitas Australia. Mereka menemukan bahwa banyak mahasiswa yang yakin prestasi akademik sebagai indikator utama yang dicari oleh dunia kerja- atau perusahaan. Ternyata keyakinan ini salah. Memang untuk masuk universitas yang dicari oleh para mahasiswa adalah bagaimana bisa memperoleh peringkat nilai akademik yang tinggi. Untuk masuk ke dalam dunia kerja, setelah mereka diwisuda, yang dibutuhkan dunia kerja (oleh perusahaan) bukan semata-mata terbatas pada nilai akademik yang tinggi, namun bagaimana mahasiswa juga memiliki kemampuan dibalik nilai akademik tersebut, yaitu seperti:
            Leadership, communication skill, problem solving and customer service- keterampilan dalam bidang kepemimpinan, kecakapan berkomunikasi, kemampuan dalam mengatasi masalah dan kemampuan melayani pelanggan”. Ini semuanya merupakan kriteria yang direkomendasi agar bisa dimiliki oleh mahasiswa- sebagai calon pelamar kerja- saat mereka ikut dalam proses rekruitmen di berbagai perusahaan.     
            Jadi kriteria-kriteria tersebut tidak banyak berhubungan dengan bagaimana tingginya nilai akademik seseorang yang dia peroleh dari perguruan tinggi. Kalau sebelumnya banyak pencari kerja yang meyakini bahwa perusahaan akan mencari orang yang cerdas otaknya dalam belajar, mampu bekerja dan nilai akademis bagus. Ternyata ini merupakan indikator yang sudah ketinggalan zaman. Karena sekarang banyak perusahaan yang punya kriteria tersendiri dalam melakukan rekruitmen. Rekruitmen yang dilakukan bukan rekruitmen tunggal, namun rekruitmen  yang bertahap, gunanya untuk mendapatkan personalia yang sangat cocok bagi atmosfir perusahaan.
Bagaimana dengan faktor-faktor kemampan non-akademik, apakah sangat berpengaruh atas kesuksesan seseorang ?. Jawaban ini dapat kita temui dengan membaca profil orang-orang sukses, salah satunya profil singkat Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat, yang mana skor IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) saat wisuda dari jururan psikologi di Universitas Indonesia tidak begitu menggembirakan. Namun  belakangan dia bisa merajut kesuksesan, hingga menjadi anggota Parlemen RI dan juga terpilih dua kali sebagai Gubernur Sumatera Barat.
Irwan Prayitno, nama lengkapnya yaitu Prof. Dr.H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc. Ia datang dari keluarga Minangkabau. Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang. Irwan Prayitno adalah anak pertama, memiliki tiga adik, dari orang tua yang sama-sama dosen. Jadi orang tua yang berpendidikan tinggi biasanya mampu mendidik anak yang juga cerdas dan berkualitas.
Masa kecilnya yang sering pindah-pindah telah membuat pengalaman geografi dan pengalaman adaptasi sosialnya semakin kaya. Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA, menjalani dua kali kepengurusan OSIS pada tahun kedua dan ketiga di SMAN 3 Padang. Selama di SMA, ia meraih juara pertama di kelasnya dan selalu dipercayakan sebagai ketua kelas. Jadinya Irwan tidak sekedar jago akademik, namun ia juga punya soft-skill yang lain , yaitu peduli pada berorganisasi dan tentunya juga cakap dalam berkomunikasi.
Ternyata anak-anak yang sempat menjadi ketua Osis saat di SMA memiliki kemampuan leadership yang bagus dan pada umumnya sukses setelah dewasa. Ini dibuktikan pada beberapa teman. Salah seorang teman saya saat di SMA, namanya Hidayat Rusdi, pernah menjadi ketua Osis di SMA Negeri 1 Payakumbuh dan setelah dewasa ia sukses berkarir di Perusahaan Perminyakan- Pertamina. Teman saya  yang lain, juga bernama Rusdi, tetapi Rusdi Thaib. Saat di SMA ia juga pernah menjadi Ketua Osis (di salah satu SMA di kota Solok), dan setelah dewasa ia berkarir sebagai Dosen Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang dan kemudian menjadi Atase Budaya di Kantor Kedutaan Besar RI- Kuala Lumpur. Jadi betapa pentingnya para siswa harus memiliki keterampilan leadership saat masih kecil atau remaja, dengan harapan setelah dewasa akan lebih mudah meraih sukses dalam kehidupan mereka.
Selanjutnya tentang Irwan Prayitno, bahwa ia sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya. Namun, karena mempunyai masalah dengan mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia. Setelah tamat SMA pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar- untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun, menurutnya yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai semata, tetapi pengembangan diri.
Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Akhirnya Irwan mampu menyelesaikan kuliahnya pada jurusan psikologi UI, sayangnya IPK (Indeks Prestasi Kumulatifnya) cukup rendah. Karena IPK rendah, Irwan memilih tidak melamar pekerjaan di Jakarta. Ia memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Sebelum mengakhiri kuliahnya, ia telah berpikir bagaimana merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan.
Saat itu saya kuliah di jurusan Bahasa Inggris-IKIP Padang (sekarang menjadi UNP) dan saya  juga menyibukan diri sebagai pustakawan sukarela pada Perpustakaan Masjid Al-azhar di Komplek Pendidikan IKIP dan UNAND. Di sana saya berkenalan dengan Irwan Prayitno yang sering membawa anak sulungnya. Dan saya mengira itu adalah adiknya, ternyata adalah anaknya.
Saya masih ingat bahwa pada awal karirnya, ia sempat memberi bimbingan konsultasi gratisan bagi mahasiswa yang mau kuliah melalui kegiatan amal yang diselenggarakan oleh Yayasan Amal Shaleh di Air Tawar- Padang. Yayasan ini dibimbing oleh Dr Muchtar Naim, seorang sosiolog dari Unand. Akhirnya Irwan mendirikan kegiatan bimbingan belajar dan juga menjadi aktivitas sosial yang lebih professional. Ia dan teman- teman membuat kelas-kelas kursus.
Pada 1988, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati. Bermula dari kursus bimbingan belajar, Irwan membentuk Yayasan Pendidikan Adzkia yang secara bertahap mewadahi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Secara bertahap sejak 1994, Adzkia membuka jenjang perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan. Dalam pembinaan anak didik, ia mencurahkan ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah.
Perkembangan Yayasan Pendidikan Adzkia berpengaruh pada kemapanan hidupnya, mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Pada tahun 1995, Irwan mengambil kuliah di Selangor, Malaysia sambil membawa serta istri dan anaknya. Namun, karena IPK rendah, lamarannya sempat beberapa kali ditolak. Teman sesama aktivis dakwah di Selangor mempertemukannya dengan Pembantu Rektor UPM (Iniversity Putra Malaysia). Kepada Prof. Hasyim Hamzah, Irwan menyatakan kesanggupan untuk menyelesaikan studi dalam tiga semester. Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM (Human Resource Development) di UPM- Selangor. Tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun pada 1996, ia melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama.
Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke  London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.
Move on yang dilakukan oleh Irwan Prayitno sangat pesat. Hidupnya mengalir, ia selalu melakukan proses hingga ia bisa menjadi Ketua Partai Keadilan propinsi Sumatra Barat, menjadi anggota DPR RI, dan terus menjadi Gubernur Sumatra Barat. Namun beberapa catatan awal hanya bertujuan bahwa Irwan Prayitno kuliah ke Universitas Indonesia bukan untuk mencari pekerjaan, namun untuk mematangkan pribadi, mengembangkan pemikiran, intelektual, mematangkan kemampuan leadership, juga kemampuan komunikasinya serta keberanian enterpreurship-nya. 
Jadi para pemuda- siswa dan mahasiswa- di zaman sekarang perlu tahu bahwa betapa pentingnya memiliki soft skill atau keterampilan-keterampilan yang bervariasi. Selain memiliki kemampuan akademik juga perlu memiliki soft-skill seperti “kerjasama, ketabahan, ketangguhan, kepemimpinan/ leadership, keampuan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah dan pelayanan pada pelanggan”. Inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan (dunia kerja). Juga mereka perlu tahu bahwa setiap perusahaan memiliki iklimnya  sendiri-sendiri. Ada perusahaan yang bersifat sangat formal dan menerapkan konsep hirarki, dan juga ada perusahaan yang suasananya lebih rileks dan informal.
Dunia kerja tetap selalu mencari/ membutuhkan orang yang berpribadi attraktif dan punya soft skill- keterampilan serta pengalaman yang spesifik. Untuk mengetahui ini dunia kerja akan memberikan penilaian melalui: “action oriented, willing to speak up, willing to brainstorming, and willing to have the opinion”.
Jadi dari paparan di atas dapat disimpulan, sekali lagi, bahwa soft skill -kemampuan dan pengalaman yang bervariasi akan memudahkan jalan bagi kita dalam mendapatkan karir di masa depan.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture