Selasa, 13 Juni 2017

Peraturan Tertulis Dalam Manajemen Keluarga



Peraturan Tertulis Dalam Manajemen Keluarga

            Saya tidak habis pikir mengapa orang-orang dari negara maju, terutama dari negara-negara benua Eropa, Amerika, Jepang dan Australia, sangat mudah mengekspresikan tiga kata penuh simpati, yaitu “thank you, I am very sory, and very good”. Orang yang bukan berbahasa Inggris, seperti Jerman juga juga mudah mengatakan “prima danke”. Atau orang Perancis juga mudah mengekspresikan “ Je suis desole, merci beaucoup, et c’est bon”.
            Orang kita yang belajar bahasa Inggris juga mudah mengekspresikan “thank you, very good and I am very sorry”. Namun dalam percakapan menggunakan bahasa ibu atau bahasa Indonesia, mereka tidak begitu sering mengucapkan kata “maaf, kamu pintar, atau terima kasih”. Kecuali bagi orang-orang yang cukup terdidik. Mengapa hal ini terjadi ?
            Rasa ingin tahu saya selalu muncul, mengapa anak-anak kecil di negara-negara tersebut juga mudah mengungkapkan “thank you and  I am very sorry !” Untuk hal-hal kecil mereka dengan enteng mengucapkan “thank you” terloncat dari mulut mereka yang mungil itu. Kalau dihitung-hitung bahwa bisa jadi mereka telah mengucapkan 20 hingga 50 kali kata “terima kasih atau thank you” setiap hari.
            Cukup kontra dengan masyarakat kita, dan saya tidak bermaksud underestimate pada bangsa sendiri, bahwa kata-kata “terima kasih, maaf dan bagus” belum dipakai pada semua kalangan masyarakat. Kata terima kasih hanya sebagai pajangan pada tembok atau papan, misal “Terima kasih atas kunjungan anda ! Terima kasih atas perhatian anda ! Terima kasih atas partisipasi anda !” Namun dalam realita, dalm kehidupan sehari-hari bahwa kata “terima kasih dan maaf” juga susah terucap dari mulut secara spontan. Hanya orang-orang yang membiasakan diri yang terlatih untuk mengekspresikannya.
            Suatu ketika saya berpergian dari Padang menuju Batusangkar dengan mobil travel eksekutif. Beberapa menit setelah mobil berangkat naik lagi seorang perempuan muda yang cantik, dan saya pikir dia adalah seorang mahasiswa tingkat terakhir. Dia terlihat begitu sibuk dengan phonecell-nya. Dia terlihat sebagai seorang perempuan yang ribet, karena disibukan dengan medsos menggunakan dua gadget sekaligus sepanjang perjalanan.
            Saya tidak berharap dia menyapa saya, hanya kalau boleh sedikit basa-basi meluangkan untuk sekedar bertegur sapa- dengan mengataan permisi pak/ permisi uni/ permisi om saat masuk mobil- dengan teman sebangku lainnya dalam mobil. Namun itulah fenomena sekarang bahwa hampir banyak orang merunduk dengan mata melotot menatap layar gadget selama berjam-jam dan nilai-nilai sosial sudah pada beterbangan.
            Mobil travel hanya diisi oleh 6 orang penumpang. Namun semua punya privacy, menutup diri dan masing-masing enggan untuk berkomunikasi. Juga masing-masing memasang wajah serius atau wajah formal.
            Sekali-sekali saya mencuri tahu tentang apa yang dilakukan oleh perempuan muda itu dengan androidnya. Ya seperti kebanyakan anak-anak muda zaman sekarang, dia sibuk dengan fitur media sosialnya- ada Facebook, Twitter, WA, Line, BBM, SMS, dll. Barangkali ia memiliki banyak kontak number, mungkin hingga ke seluruh penjuru tanah air dan betapa ia ribet dan sibuk ibarat seorang operator telepon selluler. Ia sibuk membalas message yang datang silih beranti. Ia hanya berhenti dengan gadgetnya begitu sopir menghentikan mobil dekat rumah-kosannya di Batusangkar.
            Ia melangkah ke luar, ia tidak sadar kalau androidnya yang berada di kantong celananya meluncur dan tertinggal di bangku mobil. Spontan saya memungut dan meneriakan (memanggilnya) bahwa phonecell nya tertinggal- “phoncell-nya tertinggal dek !!!”. Dia berbalik dan memungut phonecell-nya dengan enteng tanpa basa-basi mengucapkan sepatah kata “terima kasih” pada saya.
            Saya tidak bermaksud menggeneralisir bahwa ini adalah fenomena orang muda atau sebahagian mahasiswa sekarang. Namun mahasiswi yang ribet tadi-tidak punya waktu mengungkapkan rasa terima kasih- merupakan salah seorang oknum yang telah gagal dalam mengaplikasikan dan memahami betapa penting kita dalam hidup harus mampu mengucapkan terima kasih pada orang lain.
            Sekali lagi bahwa saya tidak bermaksud buat memuji bangsa Barat. Namun hanya sebagai ilustrasi saja bahwa umumnya keluarga di sana betapa entengnya, mulai dari anak-anak hingga generasi tua, dalam mengucapkan kata-kata maaf, memuji dan juga berterima kasih. Teman saya orang Australia, keturunan Inggris, selama berlibur di tempat saya puluhan kali mengucapkan “thank you very much, sorry and very good”.
            Ternyata kata-kata bertuah ini tidak muncul dan terucap dengan sendirian dari mulut warga di sana. Penduduk atau keluarga merekalah yang membuat mereka menjadi lebih santun dan beretika, dan sekaligus menumbuhkan karakter berbahasa yang lebih bernilai kuat. Bahwa kunci keberhasilan mereka dalam menanamkan kata-kata maaf, terimakasih dan memuji adalah melalui house rule- yaitu peraturan tertulis yang dirancang oleh orangtua buat mejalankan majajemen keluarga mereka.
            Sebagaimana halnya dengan perusahaan, ada perusahaan yang tumbuh maju dan juga ada perusahaan yang mundur, bangkrut dan hancur. Itu terjadi dari keberhasilan atau kegagalan dari seni manajemen perusahaan. Demikian pula dengan keluarga/ rumah tangga, tentu ada yang sukses manajemennya dan sebaliknya juga ada yang gagal.
            Dalam pandangan orang-orang yang berpikiran maju bahwa keluarga/ rumah tangga juga butuh manajemen. Rumah tangga di seputar kita juga punya manajemen, namun sayang mereka belum membuat peraturan keluarga yang jelas- yang tertulis. Sehingga tidak jelas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh- some do’s and some don’ts.              
            Berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa umumnya rumah tangga yang di negara-negara maju mereka memiliki house rule- yaitu berisi peraturan tertulis tentang manajemen keluarga. Peraturan tersebut muncul dari gagasan, ide/opini dan keputusan dari kesepakatan ayah dan ibu atau suami dan istri. Salahsatu dari bentuk dari peraturan keluarga (house rule) adalah sebagai berikut: 
            1). Dengar dan hormati orang tua.
                 - Tanpa memprotes kembali, mengeluh atau membanting benda-benda di rumah
                   ini.
            2). Hormati keluarga dan teman-teman.
                 - Berbagilah, berikan bantuanmu dengan ikhlas, jangan menendang-nendang
                   dalam rumah, bersikap sopan dan gunakanlah kata-kata yang baik dan ramah.
            3). Selalu berbicara benar.
            4). Peduli pada kondisi tubuh.
                - Pilihlah makanan yang bersih dan sehat, gosok gigi secara teratur, jaga
                 kebersihan diri, berpakaian rapi dan bersiap-siap ke sekolah tepat waktu, tidur
                 pada waktunya- yaitu jam sekitar 9.30- 10.00 malam.
            5). Jaga keamanan dan kebersihan rumah.
                - Bersihkan meja dan ruangan setelah makan, singkirkan mainan, tempatkan
                pakaian kotor pada keranjang khusus, dilarang memanjat dan melompat-lompat
                dalam rumah.
            6). Peliharalah benda-benda milik pribadi, hormati benda-benda milik orang lain.
                Berterima kasih atas apa yang kita miliki, minta permisi bila ingin menggunakan
                benda-benda yang bukan milik kita, bermainlah dengan baik, setelah bermain
                maka tempatkan benda tersebut dengan baik dan rapi.
            7). Jadilah orang yang ramah dan suka membantu satu sama lain.
            8). Gunakan kata-kata please dan thank you.
            Jadi seseorang bisa mengucapkan kata please dan thank you bukan dibawa sejak lahir, atau muncul secara pontan, namun memang karena diprogramkan dan dkonsisikan melalui peraturan keluarga sehingga muncul menjadi sebuah karakter. Komitmen dalam manajemen (menata) keluarga antara ayah dan ibu dan juga melibatkan anak merupakan hal-hal yang tidak bisa ditawar-tawar untuk mentaatinya. Terutama orangtua harus dulu mengikuti/ mentaati peraturan keluarga ini agar bisa menjadi model bagi anggota keluarga yang lain.
            Untuk lebih kebijakan lebih spesifik maka orang tua perlu membuat peraturan keluarga buat ditaati oleh anak-anak. Peraturan tersebut ditata dan ditulis dengan huruf yang lebih besar dan dihiasi agar bentuknya menarik. Berikut bentuk larangan dan suruhan (some do’s and some don’ts) sebagai familly rule buat anak-anak.
1). Anak-anak akan menyapa orangtua dengan kata “hi mom ! hi dad !” bila mereka
     memasuki rumah dan akan mengucapkan “good bye” bila mereka berangkat.
2). Anak-anak akan selalu menghormati orangtua, guru-guru dan orang-orang tua
     lainya.
3). Anak-anak akan bersikap baik pada saudara-saudaranya.
4). Anak-anak ikut menjaga rumah terlihat rapi dan bersih.
5). Anak-anak selalu memelihara rambut, tubuh dan gigi mereka bersih setiap hari.
6). Anak-anak tidak akan mengiterupsi bila orangtua sedang berbicara.
Lebih lanjut bahwa dalam melaksanakan manajemen keluarga, memang dibuat familly rule yang tertulis. Pada beberapa keluarga, mereka menulis familly secara umum terutama tentu saja ditekankan buat anak-anak dan tamu yang menginap di rumah. Berikut bentuk general familly rule tersebut :      
1). Dilarang berlari dalam rumah, kalau kamu dalam keadaan badmood maka
     beradalah dalam kamarmu sendiri.
2). Dilarang bercanda dengan gerakan fisik yang kasar.
    - Jangan menyerang, menendang, meninju, mengigit, menyiku dan saling
     menyakiti.
3). Tidak diizinkan membawa makanan dan minuman keluar dapur.
4). Kalau kamu butuh sesuatu mintalah secara baik-baik.
    - Kalau kamu merasa sedih atau marah maka berbicaralah dengan ibu atau ayah.
    - Jangan berbicara tentang hal hal privacy dengan semua orang.
    - Bawalah piring piring kotor ke tempat pencucian dan cucilah hingga bersih.
    - Kalau berbicara jangan berebutan, saling mendengarlah.
    - Tidak diizinkan membuat orang lain jadi sedih.
    - Kalau dikatakan stop (berhenti) maka berhentilah.
Dalam kemajuan teknologi sekarang, maka benda-benda moderen tersebut juga hadir dalam rumah-rumah mereka, terutama benda-benda yang berhubugan dengan teknologi komunikasi seperti komputer, gadget, notebook, android, televisi, dll. Pada keluarga moderen mereka tetap menerapkan adanya peraturan keluarga dalam menggunakan bena teknologi tersebut. Berikut salah satu bentuk- some do’s and some don’ts- dalam penggunaan benda teknologi atau familly rule for technology:
1). Dalam rumah ini teknologi adalah milik bersama bukan milik pribadi maka patuhi
      peratura keluarga.
2). Semua penggunaan teknologi harus disetujui oleh orangtua terlebih dahulu, kalau
     tidak disetujui jangan menggunakannya.
3). Kami menghargai nilai manusia melebihi nilai teknologi.
4). Jangan membawa peralatan teknologi ke meja makan.
5). Tidak dibenarkan menggunakan teknologi dalam kondisi pintu tertutup.
6). Kewajiban dan pekerjaan rumah harus diselesaikan setelah itu baru boleh
     menonton TV atau video game.
7). Gunakan teknologi seperlunya, bila tidak akan ditahan.
Itulah poin-poin dari peraturan buat keluarga yang berisi tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Bahwa secara umum anak-anak dan juga para remaja berpikir bahwa bila liburan tiba mereka boleh berbuat lebih bebas. Namun lagi-lagi keluarga dari dunia maju membuat peraturan keluarga buat menghadapi liburan sekolah.
Berikut tentang school holiday rule buat anak-anak di rumah. Anak-anak baru boleh menggunakan iPad dan TV seberapa suka selama tugas-tugas berikut telah dikerjakan, yaitu:
- Sudah merapikan kamar tidur.
- Sudah sarapan pagi.
- Sudah mandi dan berpakaian yang bersih.
- Sudah menggosok gigi.
- Sudah merapikan rambut.
- Sudah membaca paling kurang selama 20 menit.
- Sudah menulis atau mewarnai.
- Sudah membersihkan satu kamar (ruang TV/ kamar tidur).
- Sudah membantu anggota keluarga, tanyakan kalau ada pekerjaan yang bisa kamu
  lakukan.
Kalau semua poin-poin di atas telah dikerjakan maka anak-anak boleh menonton TV atau bermain dengan iPad. Masyarakat awam awam berpikiran bahwa gambaran tentang bangsa barat seperti dicitrakan oleh film-film atau artikel-artikel yang mengupas tentang hal-hal negatif, seperti cara berpakaian mereka berbeda dari orang timur. Kemudian mereka menganut kehidupan serba bebas. Dibalik itu orang barat juga menjunjung moral yang tinggi seperti jujur, disiplin, menghargai waktu, peduli degan sesama dan juga berkarakter sebagaimana yang ditunjukan oleh cara-caramereka berbahasa. Karakter positif ini bia tubuh lewat menerapkan house rule atau familly rule. Denga demikian peraturan tertulis untuk keluarga- yang mungkin namanya familly rule atau house Rule memang merupakan kunci untuk manajemen keluarga dan sekaligus untuk membina karakter keluarga.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture