Senin, 11 Februari 2013

Berkunjung ke Universitas Deakin

Deakin University

1. Kampus Deakin University
Kali ini kami tidak punya janji dengan Pak Ismet. Pagi ini dia pergi ke dokter gigi, namun kami akan bertemu di kampus Deakin, dimana Pak Ismet bekerja sebagai Dekan pada Fakultas sastra dan Bahasa, sementara Ibu Rebecca sebagai ketua jurusan pada jurusan Bahasa Indonesia dan sekaligus sebagai Ahli Bahasa Indonesia di sini.
Kami melintas dari depan apartement Punthill, apartemen kami yang baru juga bernama punthill dan juga terletak di perempatan jalan. Kami kemudian menyusuri jalan dan palang nama kampus Deakin terlihat dengan jelas dari kejauhan. Kadang- kadang kami berfoto- foto di jalanan untuk membuat foto memori.
Jam 11.00 pagi  kami sudah berada di komplek universitas Deakin dan kami menemukan kantor ibu Dr Rebecca pada sebuah blok di nomor D.3.07. Ibu Rebecca belum sampai di kantornya dan kami diminta oleh seorang dosen yg sedang bekerja di kantor sebelah untuk  menunggu sebentar pada sebuah ruang pustaka kecil. Memang benar bahwa ibu beki datang dan kami diajak untuk melihat- lihat ruangnya.
Deakin Universitas adalah suatu Universitas Publik Australian dengan hampir 40,000 jumlah mahasiswanya  dalam  2010. Universitas ini  menerima lebih dari 600 juta AusD untuk biaya operasional pendidikan dan harga asset  1.3 milyar USD. Universitas ini  menerima lebih dari  35 USD untuk dana  riset dalam tahun  2009 dan mempunyai 835 mahasiswa riset.  Universitas ini  mempunyai kampus di  kota  Geelong, Melbourne, dan Warrnambool, Victoria. Universitas diberi nama  menurut pemimpin Pergerakan Federasi Australian dan Perdana Menteri Australia yang kedua yaitu Deakin Alfred.
2. Jurusan Bahasa Indonesia di Deakin Universitas
            Saat kami di pandu oleh ibu Rebbeca keliling komplek kampus Universitas Deakin, kami juga diajak masuk ke sebuah kelas mirip studio- ya sebuah kelas laboratorium. Kelasnya bisa menampung sekitar lebih dari seratus mahasiswa, dilengkapi oleh media audio visual. Percsakapan mahasiswa dan dosen bisa di rekam.
            Ibu Rebbeca cukup mahir dalam mengoperasikannya dan kami mendengar model percakapan dalam bahasa Indonesia melalui suara penutur Australia. Saat itu ibu Rebbeca juga dibantu oleh dua orang Australia keturunan India dalam mengoperasikan fasilitas audio visual yang lain.
            Kami rasa bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di Universitas Deakin sudah sangat maju. Malah untuk membuat kualitas penguasaan bahasa Indonesia maka Universitas Deakin membuat kegiatan bersama dengan universitas di Indonesia, termasuk dengan UNP (universitas alumni bagiku). Aku pernah mengintip dan mendengar bagaimana bule- bule belajar Bahasa Indonesia di UNP- Universitas Negeri Padang (http://www.ganto.web.id). 
Di Ruang Sidang Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP), sembilan orang mahasiswa Universitas Deakin Australia tengah belajar bersama seorang dosen. Saat seorang lelaki berperawakan tinggi dan berkulit putih masuk ke dalam kelas, seorang mahasiswa berkulit putih lainnya tengah berdiri di depan kelas dengan memegang sebuah spidol. Dia berusaha menggambar pancuran dan kotak kecil yang ditulisi Soap. Lalu, Ia bertanya pada rekan-rekannya, “Sedang apa?” Setelah hening sebentar, satu diantara mereka menjawab, “Mandi,”. Ketika gambar yang dibuat mampu ditebak oleh temannya, Ia kembali ke tempat duduk. Seseorang yang lain maju ke depan kelas dan melakukan hal yang sama.
Meskipun berasal dari negara yang berbahasa Inggris, namun tidak terdengar sekalipun kata-kata dalam bahasa asing. Mereka murni berbahasa Indonesia. Selama empat hari dalam seminggu mereka belajar Intensif Bahasa Indonesia bersama dosen-dosen dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka adalah Michael Filius; Breanna Funston; Erin Mc’ Lean; Eloise Clarke; Clover Hart; Stephanie Cowdy; Jessica Capkin; Aimee Mc’ Leahlian dan Alexandra Everard. Mahasiswa yang berjumlah sembilan orang ini berlatar belakang studi yang beragam, ada yang berasal dari jurusan kesehatan (Health science), ekonomi (finance) dan lain sebaginya.
Di Australia, mereka berasal dari latar belakang jurusan yang berbeda. Ada yang dari jurusan Kesehatan, Ekonomi, dan sebagainya. Namun, di UNP mereka dipertemukan dalam sebuah kelas mata kuliah Umum Bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh peraturan kampus setempat yang memberi pilihan kepada mahasiswa untuk belajar di Negara asli pemilik bahasa tersebut atau menambah waktu belajar satu tahun lagi untuk  belajar bahasa indonesia yang diajar oleh dosen di sana. “Akhirnya, mereka memilih untuk belajar di sini”.
Tidak hanya belajar Bahasa Indonesia, para bule dari Tanah Kangguru itu juga mempunyai tiga kegiatan lainnya, yaitu; kegiatan budaya sehari-hari di mana mereka harus belajar bagaimana cara membuat janur, menari tarian tradisional dan mengenal batik Indonesia. Selanjutnya, kegiatan studi lapangan dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu, seperti; Padang Ekspres, Dinas Pariwisata, Puskesmas dan Home Industri. Setelah berkunjung ke tempat tersebut, mereka juga diharuskan membuat laporan sepanjang 1000 kata dalam bahasa Indonesia.  “Hal ini berlaku untuk semua tempat yang kami kunjungi,” ujar Stephani.
Program ini bernama Kursus Intesif Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa Deakin University, sedangkan di Australia sendiri program ini disebut In Country Study Program. Program  ini telah terlaksana selama beberapa tahun belakangan. Tiap tahun, selalu ada mahasiswa dari Deakin University yang belajar bahasa indonesia di UNP. “Dua bulan rasanya mungkin belum cukup untuk mempelajari bahasa Indonesia dan juga budayanya tapi kami harus segera kembali ke australia untuk melanjutkan study,”
Acara perpisahan yang bertemakan malam kesenian tersebut menyajikan atraksi seni dari kesembilan bule itu dengan menampilkan berbagai macam budaya indonesia khusus sumatera barat yang telah dipelajarinya selama kuliah di UNP, seperti tari persambahan minangkabau, berpidato dalam bahasa indonesia, menayangkan video yang berisikan semua kegiatan mereka. Kemudian acara ditutup oleh Rektor  UNP.

3. Akomodasi Buat Mahasiswa Asing
            Saat kami diajak oleh ibu Beki mengelilingi ruangan kampus Deakin, aku menjumpai satu ruangan- kantor- yang mengurus masalah pemondokan atau akomodasi bagi mahasiswa asing.  Aku juga jadi berfikir tentang  seperti apa tempat tinggal/akomodasi di australia? Berikut ada beberapa catatan untuk menjawab hal ini (http://achmad.glclearningcenter.com):
1). Umumnya orang2 pada tinggal di flat/apartment,  karena penduduk  Melbourne sudah padat,  meskipun tidak padat seperti  Jakarta, Dhaka, Kolkata, atau Delhi.
2). Jarang sekali orang yang tinggal di rumah, yang tinggal di rumah biasanya para orang tua yang  sudah lama tinggal di Melbourne.
3). Sistem lantai berbeda dengan indonesia jadi perlu adaptasi, di Australia  jika ada rumah dengan 2 lantai, maka lantai bawah yang sejajar tanah disebut ground floor, dan lantai di atasnya disebut first floor atau level1.Di Indonesia yang bawah disebut lantai 1, yang atas disebut lantai 2.
4). Akomodasi adalah hal yang krusial bagi student, kalau akomodasinya tidak mendukung bagaimana bisa belajar?
5). Pihak kampus juga menyediakan layanan akomodasi bagi student-nya.
6). Secara umum akomodasi untuk single lebih banyak tersedia jika dibandingkan akomodasi untuk family.
7). biaya sewa di oz adalah per week, dan pembayarannya adalah setiap 2 minggu (disebut juga fortnightly).
8). untuk single, biayanya sekitar 180-250AUD perweek.
Ada juga pemondokan yang murah di Australia, namanya “lodge”. Aku tahu dengan istilah ini dari teman satu taxi dengan kami dari Batusangkar menuju Padang (minggu lalu0. Ia mengatakan bahwa ia mengikuti program guru magang (shadowing teacher) di Perth- Australia Barat- ia tinggal pada lodge.
Menurut pengertianku bahwa lodge adalah semacam rumah kost yang harga sewanya lebih murah. Karena sewanya murah maka fasilitas kebutuhan juga terbatas, tidak seperti tinggal di apartemen. Tinggal di lodge ya ibarat tinggal di rumah sederhana, bisa masak sendiri dan hidup lebih bisa berhemat.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture