Senin, 11 Februari 2013

Pendidikan di Victoria

Pendidikan DI Victoria

1. Departemen Pendidikan Victoria
            Sebetulnya tujuan utama kami untuk datang ke Melbourne- Australia adalah untuk memperoleh pengalaman sebanyak mungkin tentang pendidikan dan juga tentang kebudayaan. Maka kunjungan kami ke Departemen Pendidikan Victoria dan ke sekolah atau universitas adalah momen yang sangat berharga untuk dicatat dengan tinta emas. Kami sangat berterima kasih pada Pak Ismet dan ibu Rebeccca yang selalu memandu kami dalam menelusuri pengalaman indah tentang pendidikan di kota ini.
Pak Ismet danIbu Rebecca datang lagi tepat waktu, pukul 08.00 pagi ke apartemen kami. Kami segera naik ke dalam mobilnya. Kali ini aku merasa mengantuk namun aku enggan untuk memejamkan buat tidur walau untuk sekejap. Soalnya aku jauh-jauh datang ke Melbourne dengan biaya yang sangat mahal, tentu aku merasa rugi kalau mataku tidak aku manfaatkan buat mengamati hal- hal yang unik dan indah di Australia dan aku akan mengumpulkan pengalaman hidup sebanyak mungkin.
            “Maka sepanjang perjalanan aku melemparkan pandangan ke arah luar jendela mobil. Tentu ada banyak hal menarik yang dapat ditangkap oleh mata”.     
            Bukan maksudku menjelek-jelekan kampung sendiri bahwa kalau di tanah air traffic light seolah-olah hanya untuk dipatuhi oleh pengemudi sepeda motor dan juga oleh kendaraan mobil dan tidak perlu dipatuhi oleh pengendara sepeda. Pengendara sepeda boleh menerobos jalan raya kapan saja. Namun di Melbourne (di Australia) pengendera sepeda juga harus mematuhi traffic light- mereka juga harus berhenti bila lampu merah menyala dan boleh bergerak bila lampu hijau menyala. Berarti aplikasi lalu-lintas kita perlu memaju disiplin lalu-lintas di Australia.
            Sejak kedatangan ku di Melbourne aku sering bertanya-tanya sendirian tentang mengapa semua transport di Australia hanya dimonopoli oleh kendaraan mobil dan aku sangat jarang melihat sepeda motor. Pertanyaanku dijawab oleh Pak Ismet bahwa itu karena sepeda motor lebih sulit untuk diperoleh. Harga sepeda motor lebih mahal dari pada sebuah mobil bekas yang masih layak pakai. Untuk diingat bahwa sepeda motor di Australia semua berukuran besar, karena digunakan untuk menempuh jarak yang jauh.
            Saking begitu banyaknya jumlah mobil maka aku sering melihat usaha pendduduk seperti pencucian mobil pake tangan “hand wash car” dengan biaya 16 Aus $ atau setara dengan Rp. 176.000. Ya setarah dengan harga satu porsi sarapan pagi.    
            Kemudian juga aku perhatikan bahwa dalam menunggu transportasi publik juga harus bersabar. Sarana transportasi publik adalah mobil umum dan juga tram. Aku juga melihat bahwa pada tiap perempatan jalan ada traffic light tertulis “stop here on red arrow”. Jadi selain ada traffic light juga ada pesan tertulis yang harus dipatuhi.
Mobil kami kemudian berhenti di pinggir taman kota yang terletak di samping kantor Department of Education Victoria. Di pinggir taman kami melihat ada bangunan kecil dari batu bata. Itu adalah rumah bersejarah yaitu rumahnya Captain James Cook.
James Cook adalah orang Eropa pertama yang menemukan benua selatan- yaitu benua Australia. Dengan demikian ia adalah penemu benua Australia. Bahan rumah James Cook semuanya dibawa dari England. Batubatanya dilepas dan diberi nomor, dibawa dengan kapal dari England dan kemudian disusun atau dibangun lagi di kota Melbourne. Bentuk rumah yang aku lihat di sini ya seperti rumahnya saat di England, nah seperti itulah negara besar dalam menghargai sejarah bangsanya.
Kami semua keluar mobil dan kami berjalan. Kami tertinggal semua oleh langkah Pak Ismet dan Ibu Rebecca. Pada hal Pak Ismet sendiri tidak tinggi tubunya. Namun langkahnya cepat. Ya demikianlah sikap dan cara berjalan orang- orang cerdas. Kalau suatu bangsa mau maju maka orang-orangnya musti bersikap bersemangat termasuk dalam berjalan.
Kami menuju entrance kantor Pendidikan Victoria. Akhirnya kami memasuki sebuah ruang yang sudah didesain sengaja untuk kami. Pada mulanya aku berfikir kalau-kalau ada meeting dengan jumlah peserta mungkin 30 atau 40 orang. Maklum sebuah meeting internasional. Ternyata setelah kami lihat bahwa kami hanya memasuki sebuah ruangan kecil yang hanya diisi oleh 10 orang dan kami yang datang hanya berlima saja, yaitu aku, Desi, Inhendri, Pak Ismet dan Bu Rebecca.                        

2. Seminar Internasional
            Seminar internasional ini adalah seminar yang terkecil di dunia. Karena hanya dihadiri oleh 5 orang saja. Seharusnya peserta seminar inimusti 20 atau 30 orang. Awalnya Pak Ismet mengusulkan kepada Pemda Tanah Datar agar bisamengirim utusan ke Melbourne dalam rangka bertukar pengalaman pendidikan secara internasional. Pada awalnya diperoleh sinyal bahwa memang akan ada peserta yang datang dalam jumlah yang demikian. Dalam dalam perubahan karena berbagai efisiensi anggaran maka yang berangkat hanya 5 orang dan pada keputusan final adalah 3orang, yaitu aku dan 2 orang temanku.
            Judul program ini adalah “School management seminar and workshop” yang diusulkan oleh Prof Ismet Fanany pada Education Dapartement of Victoria- Australia”. Pada jadwal kegiatan tertulis kepalanya:
            “Program for district of West Sumatra Republic of Indonesia. Venue-nya pada meeting room 1,1, 41 St Andrews Place, East Melbourne”. Program kegiatan dirancang dari pukul 9.25 pagi sampai pukul 12.30 siang. Kemudian ada beberapa ahli pendidikan sebagai pembicara atau key speakers. Mereka berasal dari Departement Pendidikan Victoria.        
            Begitu kami sampai di ruangan DEECD (Departement of Education and Early Childhood Development) kami langsung diantarkan ke ruangan rapat dan disambut oleh Ms. Helen Master. Ia kemudian menjelaskan secara sekilas tentang Sistem pendidikan Victoria.
            Ms. Ann Osman dan Ms. Robyn Douglass menyampaikan tentang standar belanja pokok untuk kebutuhan pendidikan Victoria. Setelah minum the pagi maka Ms. Min Dardovski menjelaskan tentang manajer dan manajemen sumber daya sekolah.   
            Kami diberi tahu tentang tujuan pendidikan nasional Australia yaitu untuk memberi pemerataan pendidikan dan juga pemerataan dalam keunggulan. Kemudian seluruh pelajar Australia harus menjadi orang yang sukses, memiliki rasa percaya diri dan pribadi yang kreatif. Pelajar Australia harus menjadi warga negara yang aktif dan kaya dengan informasi. Tentang wajib belajar untuk negara bagian Victoria adalah usia 6- 17 tahun atau wajib belajar selama 12 tahun, dari tingkat SD hingga SLTA.
            Tidak hanya di Indonesia, UN (Ujian Nasional) juga ada di Australia. UN di Australia hanya untuk mengukur pencapaian prestasi siswa melalui mata pelajaran secara tematik. Jadi bukan sebagai kriteria untuk ikut penentu kelulusan siswa dari sekolahnya. Pemberian UN adalah sebagai berikut:
1). UN bagi kelas 3, 5, 7 dan 9 untuk membaca dan menulis.
2). UN untuk kelas 6 dan 10 untuk kemampuan membaca sains (membaca ICTdan kewarganegaraan).   
Pelaksanaan UN dilakukan untuk melihat kemajuan prestasi siswa secara umum, juga untuk  pemetaan, melihat kualitas pendidikan secara nasional dan juga secara internasional (UN di negeri kita mungkin baru sebatas melihat pemetaan kualitas secara regional/ propinsi dan nasional). UN tidak berpengaruh pada tingkat kelulusan siswa. Oleh sebab itu tidak ada UN pada kelas 11 dan 12 tingkat SMA. Sementara untuk kelas 11 dan 12,  Siswa akan menekuni mata pelajaran yang mereka minati yang nanti akan mengarahkan mereka pada jurusan yang mereka ambil di Perguruan Tinggi. Setelah pelaksanaan UN, maka hasilnya juga akan dilaporkan kepada orang tua siswa.
Rata-rata populasi kelas tingkat persiapan (Paud dan TK) hanya 19 orang. Untuk tingkat SD rata-rata populasi kelas 22 orang, tingkat college (SMP dan SMA) adalah juga 22 orang. Beberapa sekolah populasi kelasnya cukup kecil sehingga guru dan sekolah bisa memberikan pelayanan lebih prima. Yang terlihat jelas bahwa rata-rata jumlah siswa SD berbanding sama (berbanding lurus) dengan jumlah siswa SMA, ini berarti bahwa hampir tidak ada siswa yang drop-out.
Usai mendengarkan presentasi dari staf kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Victoria maka kami berpamitan. Kami segera meninggalkan gedung dan selanjutnya kami bergegas menuju mobil Pak Ismet dan kebetulan jatah atau kuota parkir mobilnya juga mau habis. Kalau terlambat akan diberi denda. Memang Australia adalah juga negara yang penuh denda bagi pelanggaran, dan tidak ada basa-basi- tidak ada tawar menawar.
Angka drop-out (putus sekolah/ putus kuliah) di negara kita bisa dilihat sebagai kelompok golongan yang tinggi. Jumlah siswa SLTP lebih banyak dari jumlah mahasiswa. Penyebabnya adalah  alas an ekonomi dan keinginan bekerja tamat SLTA. Namun angka drop out yang tinggi perlu menjadi perhatian kita- sebagai guru.  Ada beberapa hal yang bisa kita diskusikan dengan calon mahasiswa untuk kuliah dan mengatasi angka putus sekolah yang tinggi.
“Pertimbangan kuliah agar tidak terancam Drop Out (Putus Sekolah)”, dewasa ini, untuk mendapatkan jaminan masa depan yang lebih baik, maka tidak cukup hanya lulus dan mendapatkan ijasah dari SMA atau jenjang sederajat lainnya. Menentukan akan kuliah di perguruan tinggi yang mana dan jurusan yang tepat, bukanlah persoalan yang sepele. Sering karena ketiadaan informasi dan ketidaktahuan akan minat atau bakat yang dimiliki, menyebabkan penyesalan di kemudian hari, misalnya perguruan tinggi yang dipilih ternyata kualitasnya tidak sesuai harapan, tidak dapat mengikuti materi kuliah dengan baik karena tidak tertarik dibidang yang telah dipilih, tidak dapat menyelesaikan kuliah dengan baik ataupun di drop out/DO oleh perguruan tinggi tempat kuliah karena masa studi telah lewat atau indeks prestasi tidak mencapai standar yang telah ditetapkan.
Maka dari itu pemilihan tempat kuliah dan jurusan yang tepat sedini mungkin harus mulai dipertimbangkan. Untuk menentukan tempat kuliah dan jurusan yang tepat adalah:
1). Kenali minat dan bakat yang dimiliki. Jangan karena teman dekat memilih satu perguruan tinggi dan jurusan tertentu maka anda ikut-ikutan. Kembangkan minat dan bakat yang sudah ada disertai dengan rasa suka dan ketertarikan yang kuat pada suatu jurusan studi akan menjadi pilihan yang tepat.
2). Tentukan lokasi dimana akan kuliah dan dana yang sudah dianggarkan.
Penentuan lokasi kuliah juga harus menjadi perhatian. Lokasi tempat perguruan tinggi berada sebaiknya yang mudah diakses, tersedia sarana transportasi yang memadai.
3). Kenali Perguruan Tinggi dan jurusan didalamnya. Pada umumnya struktur pendidikan tinggi terdiri dari 2 jalur pendidikan yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Pendidikan akademik menghasilkan lulusan dengan gelar S1, S2, dan S3. Sedangkan Pendidikan jalur profesional menghasilkan lulusan yang memperoleh sebutan profesional melalui program diploma.
4). Kenali visi dan misi dari perguruan tinggi tersebut, fasilitas yang disediakan, kualitas dari pengajar/dosen, dan jurusan yang ditawarkan di perguruan tinggi tersebut. Kumpulkan  informasi sebanyak-banyaknya sebagai bahan pertimbangan anda untuk memilih perguruan tinggi dan jurusan yang ditawarkan.
5). Pelajari jurusan yang dapat mengarahkan anda menuju profesi atau bidang pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat anda. Dengan memilih jurusan yang sesuai minimal langkah pertama menuju masa depan yang anda cita-citakan sudah dilakukan.
6). Lebih baik lagi bila perguruan tinggi tersebut memiliki wadah pengembangan karir untuk membantu menyalurkan lulusannya bekerja di industri yang sesuai. Jangan sampai anda terjebak di perguruan tinggi yang lulusannya ternyata sangat sulit mencari pekerjaan  atau menganggur tidak bekerja.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture